KEBIJAKAN PAJAK

Optimalkan Pajak Setelah Pandemi, Ini 4 Usulan Kebijakan dari Pakar

Muhamad Wildan | Kamis, 25 Maret 2021 | 16:00 WIB
Optimalkan Pajak Setelah Pandemi, Ini 4 Usulan Kebijakan dari Pakar

Managing Partner DDTC Darussalam. 

JAKARTA, DDTCNews – Setidaknya terdapat 4 kebijakan yang dapat diambil pemerintah untuk mengoptimalkan penerimaan pajak, terutama setelah terjadi pandemi Covid-19.

Pakar pajak sekaligus Managing Partner DDTC Darussalam mengatakan pemerintah perlu mengurangi tax gap, memperluas basis pajak, mengenakan pajak terhadap ekonomi digital, dan meningkatkan kepatuhan wajib pajak orang kaya atau high net worth individual (HNWI).

“Pandemi ini mengharuskan kita mengambil langkah yang luar biasa di area pajak. Apabila kita mau extra effort, ingin kerja luar biasa, maka 4 contoh ini [perlu dilaksanakan]," ujarnya dalam rapat dengar pendapat umum (RDPU) Badan Anggaran DPR RI, Kamis (25/3/2021).

Baca Juga:
Perkaya Pengetahuan Pajak, Baca 11 e-Books Ini di Perpajakan DDTC

Dalam RDPU dengan tema Optimalisasi Penerimaan Perpajakan dan PNBP tersebut, Darussalam menerangkan terdapat beberapa sektor usaha dengan sumbangan penerimaan pajak yang jauh di bawah kontribusinya terhadap produk domestik bruto (PDB).

Sebagai contoh, sektor pertanian memiliki kontribusi sebesar 12,1% terhadap PDB. Meski demikian, kontribusi sektor tersebut terhadap penerimaan pajak tercatat hanya sebesar 1,6%.

Sektor konstruksi juga tercatat memiliki setoran penerimaan pajak yang jauh di bawah kontribusinya terhadap PDB. Tercatat, kontribusi sektor konstruksi terhadap PDB mencapai 10,7%. Meski demikian, setoran pajak dari sektor tersebut hanya sebesar 5,4% dari total penerimaan pajak.

Baca Juga:
Kejar Pendapatan, DPR Imbau Pemerintah Optimalkan Sektor Perkebunan

Ketimpangan ini tidak terlepas dari kebijakan pajak yang berlaku pada sektor tersebut. Basis pajak sesungguhnya juga dapat diperluas melalui perubahan ketentuan, salah satunya melalui penurunan batasan (threshold) omzet pengusaha kena pajak (PKP) yang saat ini sebesar Rp4,8 miliar.

Berdasarkan pada catatan World Bank, threshold omzet PKP Indonesia yang mencapai Rp4,8 miliar membuat PPN yang bisa dikumpulkan Indonesia hanya sebesar 60% dari potensi aslinya. Simak pula ‘Saran World Bank: Turunkan Threshold PKP dan Omzet PPh Final’.

Selain perluasan basis dan pengurangan tax gap, pengenaan pajak atas sektor ekonomi digital dan peningkatan kepatuhan HNWI juga dapat dilakukan untuk mengoptimalkan penerimaan pajak.

Baca Juga:
DDTC Gelar Temu Kontributor Buku Gagasan Perpajakan Prabowo-Gibran

Khusus untuk pajak digital, Indonesia untuk saat ini masih mengenakan PPN atas penyerahan produk digital dari luar negeri lewat perdagangan melalui sistem elektronik (PMSE) sebagaimana diatur dalam PMK 48/2020.

Untuk saat ini, Indonesia masih belum mengenakan PPh atas penghasilan PMSE asing meski ketentuan mengenai pengenaan PPh atas penghasilan PMSE asing yang memiliki significant economic presence di Indonesia sudah termuat dalam UU 2/2020.

Khusus atas wajib pajak orang pribadi yang tergolong HNWI, pengenaan pajak kekayaan bisa dipertimbangkan untuk mengoptimalkan penerimaan pajak. Selain menyokong penerimaan pajak, pajak kekayaan juga mampu menciptakan keadilan dan mengurangi ketimpangan.

Baca Juga:
Konsumsi Kelas Menengah Stabil, Ekonomi Diprediksi Tumbuh di Atas 5%

Dalam kesempatan tersebut, Darussalam juga menekankan perlunya untuk belajar dari krisis sebelumnya dalam mengantisipasi prospek penerimaan pajak pada masa mendatang. Pertama, melihat pos penerimaan yang terkena dampak dan cepat pulih setelah krisis.

Kedua, melihat pola penurunan tax ratio (tidak hanya sektor pajak) di berbagai kawasan pada saat krisis. Ketiga, melihat tingginya pengaruh dampak resesi bagi tax ratio 2009 yang juga disebabkan jatuhnya harga komoditas.

Menurutnya, terdapat satu pelajaran penting dari krisis 2008 yang relevan bagi prospek tax ratio pada periode pandemi. Risiko penurunan tax ratio, menurut Darussalam, merupakan sesuatu yang sulit untuk dihindari mengingat terkontraksinya perekonomian hampir di seluruh negara.

Baca Juga:
Mahasiswa UII! Yuk Ikut Pembekalan Softskill dan Tips Magang di DDTC

“Tinggi rendahnya penurunan tax ratio akan sangat dipengaruhi dari struktur ekonomi dan komposisi penerimaan pajak di masing-masing negara,” imbuhnya.

Menanggapi masukan tersebut, Wakil Ketua Banggar DPR RI Cucun Ahmad Syamsurijal mengamini diperlukan keberanian untuk mengubah ketentuan pajak yang selama ini berlaku guna mengoptimalkan penerimaan pajak.

"Yang pasti karena UU ini bukan hal yang tabu untuk diubah. Karena berubahnya hukum tergantung dengan situasi, kondisi, dan zaman," ujar Cucun ketika menutup rapat. (kaw)


Editor :

Cek berita dan artikel yang lain di Google News.

KOMENTAR
0
/1000

Pastikan anda login dalam platform dan berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.

26 Maret 2021 | 08:29 WIB

usulan kebijakan dapat memberikan kontribusi lebih terhadap ekonomi sehingga pajak dan nantinya tax ratio negara pun semakin rendah

ARTIKEL TERKAIT
Selasa, 22 Oktober 2024 | 11:45 WIB LITERATUR PAJAK

Perkaya Pengetahuan Pajak, Baca 11 e-Books Ini di Perpajakan DDTC

Senin, 21 Oktober 2024 | 18:33 WIB PENDAPATAN NEGARA

Kejar Pendapatan, DPR Imbau Pemerintah Optimalkan Sektor Perkebunan

Senin, 21 Oktober 2024 | 15:30 WIB HUT KE-17 DDTC

DDTC Gelar Temu Kontributor Buku Gagasan Perpajakan Prabowo-Gibran

Sabtu, 19 Oktober 2024 | 14:00 WIB PEREKONOMIAN INDONESIA

Konsumsi Kelas Menengah Stabil, Ekonomi Diprediksi Tumbuh di Atas 5%

BERITA PILIHAN
Selasa, 22 Oktober 2024 | 21:45 WIB LEMBAGA LEGISLATIF

Sah! Misbakhun Terpilih Jadi Ketua Komisi XI DPR 2024-2029

Selasa, 22 Oktober 2024 | 21:00 WIB KEBIJAKAN PAJAK

PPN Mestinya Naik Tahun Depan, Gerindra akan Bahas Bareng Kemenkeu

Selasa, 22 Oktober 2024 | 17:30 WIB KPP PRATAMA JAMBI TELANAIPURA

WP Gagal Daftar LPSE karena KSWP Tidak Valid, Gara-Gara Tak Lapor SPT

Selasa, 22 Oktober 2024 | 17:06 WIB LEMBAGA LEGISLATIF

DPR Tetapkan Daftar Mitra Kerja untuk Komisi XII dan Komisi XIII

Selasa, 22 Oktober 2024 | 16:41 WIB IHPS I/2024

BPK Selamatkan Keuangan Negara Rp13,66 Triliun pada Semester I/2024

Selasa, 22 Oktober 2024 | 16:30 WIB KANWIL DJP JAWA TIMUR II

Pakai Faktur Pajak Fiktif, Dirut Perusahaan Akhirnya Ditahan Kejari

Selasa, 22 Oktober 2024 | 16:00 WIB TIPS PAJAK DAERAH

Cara Daftarkan Objek Pajak Alat Berat di DKI Jakarta secara Online

Selasa, 22 Oktober 2024 | 15:30 WIB AUSTRALIA

Bikin Orang Enggan Beli Rumah, Australia Bakal Hapus BPHTB

Selasa, 22 Oktober 2024 | 14:00 WIB KP2KP SIDRAP

Ubah Kata Sandi Akun Coretax, Fiskus: Tak Perlu Cantumkan EFIN