UNI EROPA

12 Negara UE Tolak Proposal Kewajiban Perusahaan Ungkap Laba & Pajak

Nora Galuh Candra Asmarani | Jumat, 29 November 2019 | 17:30 WIB
12 Negara UE Tolak Proposal Kewajiban Perusahaan Ungkap Laba & Pajak

Ilustrasi.

BRUSSEL, DDTCNews – Irlandia Bersama 11 negara anggota Uni Eropa (UE) lainnya menentang usulan proposal yang akan memaksa perusahaan multinasional untuk mengungkapkan jumlah laba serta besaran pajak yang mereka bayarkan di 28 negara anggota.

Elena Gaita, pegawai senior bidang kebijakan di anti-corruption charity Transparency International mengatakan penentangan itu dapat memicu kemarahan. Pasalnya, masih saja terdapat negara anggota UE yang menempatkan kepentingan perusahaan raksasa di atas kepentingan warga negara.

“Di seluruh penjuru UE, kita melihat masyarakat tidak senang dengan perusahaan multinasional, karena telah menyembunyikan pajak yang mereka bayar di negara tempat mereka beroperasi,” katanya.

Baca Juga:
Konsensus Pilar 1 Tak Kunjung Tercapai, Italia Usulkan DST se-Eropa

Usulan proposal tersebut dirancang untuk menyoroti bagaimana raksasa digital global – seperti Google, Apple, Facebook, dan Amazon – dapat menghindari pembayaran pajak. Bahkan, penghindaran pajak yang dilakukan dapat mencapai US$500 miliar (setara Rp7,1 kuadriliun) per tahun.

Hal tersebut lantaran perusahaan tersebut mengalihkan keuntungannya dari negara bertarif pajak tinggi – seperti Inggris, Perancis dan Jerman – menuju yurisdiksi bebas pajak atau bertarif pajak rendah seperti Irlandia, Luksemburg, dan Malta.

Irlandia menjadi salah satu penerima manfaat terbesar dari peraturan pajak yang berlaku saat ini. Sebab, Pulau Zamrud ini telah menjadi tuan rumah bagi kantor yang menghimpun pendapatan dan keuntungan dari banyak perusahaan multinasional di seluruh UE.

Baca Juga:
China Bakal Kenakan Bea Masuk Antidumping atas Susu Impor dari Eropa

Adapun Irlandia dijadikan destinasi karena memungkinkan perusahaan digital global membayar pajak perusahaan dengan tarif sebesar 6,25%. Tarif tersebut pastinya sangat rendah dibandingkan dengan tarif 19% yang berlaku di Inggris.

Keputusan Irlandia untuk menentang proposal tersebut mencuat setelah pengawas pajak dan pengeluaran Irlandia memperingatkan ekonomi negara itu bisa runtuh jika ada penindasan global terhadap penghindaran pajak

Namun, Dewan Penasihat Fiskal Irlandia mewanti-wanti bahwa ekonomi Irlandia terlalu bergantung pada pajak yang dibayarkan oleh perusahaan multinasional. Bahkan, separuh dari seluruh pajak perusahaan yang diterima Pemerintah Irlandia berasal dari 10 perusahaan global.

Baca Juga:
Hadapi Banyak Sengketa Dagang di WTO, Begini Strategi Pemerintah

Selain Irlandia, ada pula negara lain yang telah mengambil sikap dengan menetapkan negaranya sebagai kawasan bertarif pajak rendah. Negara tersebut mengklaim dapat membantu melindungi keuntungan dari perusahaan raksasa global turut menentang.

Negara-negara itu diantaranya Luksemburg, Malta, Siprus, Latvia, Slovenia, Estonia, Austria, Republik Ceko, Hongaria, dan Kroasia. Selain itu, Swedia juga menentang aturan yang diusulkan, tetapi dengan alasan khawatir proposal itu justru menurunkan standar transparansi Swedia yang lebih tinggi.

Adapun Prancis, Spanyol, dan Belanda termasuk di antara mereka yang memberikan dukungan untuk proposal tersebut. Sementara itu, Jerman memilih abstain dan Inggris memutuskan untuk tidak memilih.

Seperti dilansir The Guardian, proposal yang menjadi polemik ini diusulkan oleh Komisi UE. Secara garis besar, proposal tersebut mewajibkan disusunnya laporan country-by-country (CbCR) bagi perusahaan dengan omzet tahunan lebih dari 750 juta euro (setara Rp10,5 triliun). (kaw)

Editor :

Cek berita dan artikel yang lain di Google News.

KOMENTAR
0
/1000

Pastikan anda login dalam platform dan berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.

ARTIKEL TERKAIT
BERITA PILIHAN
Selasa, 22 Oktober 2024 | 21:45 WIB LEMBAGA LEGISLATIF

Sah! Misbakhun Terpilih Jadi Ketua Komisi XI DPR 2024-2029

Selasa, 22 Oktober 2024 | 21:00 WIB KEBIJAKAN PAJAK

PPN Mestinya Naik Tahun Depan, Gerindra akan Bahas Bareng Kemenkeu

Selasa, 22 Oktober 2024 | 17:30 WIB KPP PRATAMA JAMBI TELANAIPURA

WP Gagal Daftar LPSE karena KSWP Tidak Valid, Gara-Gara Tak Lapor SPT

Selasa, 22 Oktober 2024 | 17:06 WIB LEMBAGA LEGISLATIF

DPR Tetapkan Daftar Mitra Kerja untuk Komisi XII dan Komisi XIII

Selasa, 22 Oktober 2024 | 16:41 WIB IHPS I/2024

BPK Selamatkan Keuangan Negara Rp13,66 Triliun pada Semester I/2024

Selasa, 22 Oktober 2024 | 16:30 WIB KANWIL DJP JAWA TIMUR II

Pakai Faktur Pajak Fiktif, Dirut Perusahaan Akhirnya Ditahan Kejari

Selasa, 22 Oktober 2024 | 16:00 WIB TIPS PAJAK DAERAH

Cara Daftarkan Objek Pajak Alat Berat di DKI Jakarta secara Online

Selasa, 22 Oktober 2024 | 15:30 WIB AUSTRALIA

Bikin Orang Enggan Beli Rumah, Australia Bakal Hapus BPHTB

Selasa, 22 Oktober 2024 | 14:00 WIB KP2KP SIDRAP

Ubah Kata Sandi Akun Coretax, Fiskus: Tak Perlu Cantumkan EFIN