Kantor DJBC. (foto: beacukai.go.id)
JAKARTA, DDTCNews—Ditjen Bea dan Cukai menyebutkan tekanan ekonomi akibat pandemi virus Corona atau Covid-19 terhadap industri yang memproduksi barang kena cukai (BKC) terbilang cukup berat.
Direktur Teknis dan Fasilitas Cukai DJBC Nirwala Dwi Heryanto mengatakan sejumlah produsen barang kena cukai terpaksa menghentikan operasinya untuk sementara waktu dan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK).
"Untuk industri rokok, sekitar 85,6% masih bertahan dan beroperasi. Tapi 14,4% responden lainnya menyatakan dia tidak beroperasi," katanya sembari merujuk pada hasil survei yang diadakan DJBC, Kamis (11/6/2020).
Menurut Nirwala, tekanan terberat dialami oleh industri hasil tembakau atau rokok. Dari 291 responden pelaku industri yang disurvei, sebanyak 249 responden mengaku tetap beroperasi di tengah pandemi, sedangkan 42 responden lainnya terpaksa menghentikan operasi.
Dari 42 responden, sekitar 35,7% responden mengatakan tidak memproduksi sejak April 2020. Mereka beralasan permintaan lesu akibat kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di berbagai kota.
Namun, sekitar 52,4% responden mengatakan berencana kembali beroperasi pada Juni. "Ada yang Juli, ada yang Agustus. Nah 16,6% lainnya ini mungkin masih bingung dan melihat-lihat tetangganya, mau buka kapan," ujar Nirwala.
Pandemic Corona juga menyebabkan delapan pabrik rokok memutuskan melakukan PHK terhadap 152 orang pegawainya. Sementara itu, pabrik yang lain meliburkan karyawan dan mengurangi durasi kerja.
Terkait fasilitas cukai yang diberikan pemerintah selama masa pandemi, Nirwala mengklaim sebagian responden puas. Misal, relaksasi pembayaran cukai yang diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No. 30/PMK.04/2020.
“Sebanyak 44,6% responden senang dengan fasilitas itu karena likuiditas perusahaannya membaik,’ tuturnya.
Lebih lanjut, Nirwala menyebut 105 responden dari industri rokok atau 36,1% memiliki daya tahan yang baik. Sementara itu, sekitar 98 responden atau 33,7% berdaya tahan rendah, serta 46 responden atau 30,2% berdaya tahan rendah.
Pada industri minuman beralkohol, semua responden mengaku cukup terdampak pandemi Corona, terutama kebijakan PSBB. Responden menilai PSBB menyebabkan banyak tempat penjualan eceran tutup dan jalur distribusi terganggu.
Menurut Nirwala, pelaku usaha minuman beralkohol menyatakan mengalami penurunan penjualan rata-rata 33,54% sehingga membuat proyeksi volume pembayaran cukai diturunkan rata-rata sekitar 31,88%.
"Proyeksi penerimaan cukai minuman mengandung etil alkohol tahun 2020 menjadi Rp4,69 sampai dengan Rp5,18 triliun, atau shortfall 27% sampai 34%," ujarnya. (rig)
Cek berita dan artikel yang lain di Google News.
Pastikan anda login dalam platform dan berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.