THAILAND

Jaga Daya Beli, Tarif PPN Dipatok Tetap 7 Persen

Redaksi DDTCNews | Selasa, 06 April 2021 | 11:45 WIB
Jaga Daya Beli, Tarif PPN Dipatok Tetap 7 Persen

Ilustrasi.

BANGKOK, DDTCNews – Pemerintah Thailand akan mempertahankan tarif pajak pertambahan nilai (PPN) di level 7% untuk menjaga daya beli masyarakat meski kinerja penerimaan negara dari pajak tengah menurun.

Juru bicara pemerintah Anucha Burapachaisri mengatakan kebijakan tersebut tertuang dalam laporan Menteri Keuangan yang dirilis Maret lalu. Tarif PPN 7% berlaku untuk penjualan barang dan jasa di Thailand serta impor barang dan jasa ke negara tersebut.

"Tarif PPN 7% telah ditetapkan agar sejalan dengan situasi ekonomi negara untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, sekaligus tidak terlalu membebani masyarakat," katanya, dikutip Selasa (6/4/2021).

Baca Juga:
Februari 2024: Wajib Pajak Bereaksi karena Potongan PPh 21 Lebih Besar

Selama ini, lanjut Anucha, pemerintah Thailand selalu meninjau besaran tarif PPN setiap tahun. Tarif PPN yang berlaku saat ini juga berdasarkan keputusan sidang kabinet pada Agustus 2020 dan berlaku mulai 1 Oktober 2020 hingga 30 September 2021.

Menurut UU Pendapatan, tarif PPN standar Thailand adalah 10% sejak penerapannya pada 1992, tetapi tarif tersebut diturunkan hingga 7%, kecuali dalam laporan keuangan 'Tom Yum Kung' saat krisis 1997.

UU Disiplin Fiskal dan Keuangan Negara memerintahkan Kemenkeu merilis penilaian risiko masa depan setiap Maret. Penilaian tersebut mempertimbangkan hal-hal yang mempengaruhi perekonomian negara, mulai dari sisi makro, sistem keuangan, kebijakan pemerintah, hingga kinerja pemerintah yang dapat mempengaruhi eksposur risiko fiskal.

Baca Juga:
PPN 12 Persen, Pemerintah Ingin Rakyat Lebih Luas Ikut Bayar Pajak

Dalam laporan kali ini, Anucha menyebut Kementerian Keuangan menilai situasi ekonomi masih normal sejalan dengan indeks kepercayaan atas obligasi pemerintah yang tidak berubah sejak masa prapandemi.

"Namun, laporan tersebut menunjukkan penerimaan negara lebih rendah dari target dalam 5 bulan pertama tahun fiskal 2021 karena perlambatan ekonomi yang disebabkan pandemi Covid-19," ujarnya seperti dilansir thainews.prd.go.th. (rig)

Editor :

Cek berita dan artikel yang lain di Google News.

KOMENTAR
0
/1000

Pastikan anda login dalam platform dan berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.

ARTIKEL TERKAIT
Kamis, 26 Desember 2024 | 14:00 WIB KILAS BALIK 2024

Februari 2024: Wajib Pajak Bereaksi karena Potongan PPh 21 Lebih Besar

Kamis, 26 Desember 2024 | 08:45 WIB BERITA PAJAK HARI INI

PPN 12 Persen, Pemerintah Ingin Rakyat Lebih Luas Ikut Bayar Pajak

Rabu, 25 Desember 2024 | 13:00 WIB KEBIJAKAN PAJAK

Kontribusi ke Negara, DJP: Langganan Platform Digital Kena PPN 12%

BERITA PILIHAN
Kamis, 26 Desember 2024 | 14:30 WIB KPP PRATAMA BENGKULU SATU

Mobil Rp200 Juta Disita KPP, Bakal Dilelang Kalau Utang Tak Dilunasi

Kamis, 26 Desember 2024 | 14:00 WIB KILAS BALIK 2024

Februari 2024: Wajib Pajak Bereaksi karena Potongan PPh 21 Lebih Besar

Kamis, 26 Desember 2024 | 13:30 WIB CORETAX SYSTEM

Jelang Coretax Diterapkan, PKP Bakal Perlu Bikin Sertel Baru

Kamis, 26 Desember 2024 | 13:00 WIB PROVINSI JAWA TIMUR

Opsen Berlaku 2025, Pemprov Turunkan Dasar Pengenaan Pajak Kendaraan

Kamis, 26 Desember 2024 | 12:30 WIB ADMINISTRASI PAJAK

PKP Risiko Rendah Diterbitkan SKPKB, Kena Sanksi Kenaikan atau Bunga?

Kamis, 26 Desember 2024 | 11:00 WIB INFOGRAFIS PAJAK DAERAH

9 Jenis Pajak Daerah Terbaru yang Ditetapkan Pemkot Sibolga

Kamis, 26 Desember 2024 | 10:30 WIB KILAS BALIK 2024

Januari 2024: Ketentuan Tarif Efektif PPh Pasal 21 Mulai Berlaku

Kamis, 26 Desember 2024 | 10:00 WIB KEBIJAKAN PEMERINTAH

Kredit Investasi Padat Karya Diluncurkan, Plafonnya Capai Rp10 Miliar

Kamis, 26 Desember 2024 | 09:30 WIB PENGAWASAN BEA CUKAI

Libur Natal dan Tahun Baru, Bea Cukai Perketat Pengawasan di Perairan

Kamis, 26 Desember 2024 | 09:00 WIB CORETAX SYSTEM

Fitur Coretax yang Tersedia selama Praimplementasi Terbatas, Apa Saja?